— Pada hari ini Universitas Terbuka Jakarta (UT Jakarta) menyelenggarakan Seminar Akademik UT Jakarta yang berlangsung pada pukul 08.00-12.00 WIB di Gedung Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Pondok Cabe. Acara Seminar Akademik UT Jakarta saat ini mengambil tema “Overthinking, FOMO dan Insecure : haruskah kita khawatir?”. Dalam acara Seminar Akademik, turut hadir Drs. Moh. Muzammil, M.M. selaku Direktur Universitas Terbuka Jakarta, Dr. Drs. Karjono Atmoharsono, S.H., M.Hum., selaku Ketua IKA UT Jakarta, Christine, S.E. selaku Wakil Ketua IKA UT Jakarta dan Sherly Annavita Rahmi sebagai Narasumber Seminar Akademik beliau Millenial Influencer & Content Creator.

Antusiasme tinggi terlihat dari kehadiran sebanyak 1.912 calon wisudawan yang memadati ruang acara. Para peserta tersebut berasal dari berbagai program studi di empat fakultas, yaitu Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP), serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi seluruh calon wisudawan untuk memantapkan kesiapan diri sebelum resmi menyandang gelar sarjana.

Rangkaian acara yang berlangsung secara sistematis diawali dengan pembukaan oleh MC pada pukul 08.00 WIB, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne UT bersama seluruh calon wisudawan dan pimpinan. Memasuki agenda inti, Direktur UT Jakarta membuka Seminar Akademik secara resmi, disusul penyampaian materi interaktif serta sesi tanya jawab oleh Sherly Annavita Rahmi. Acara kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi program IKA UT, penyerahan simbolis beasiswa berprestasi dari IKA UT Jakarta, hingga ditutup dengan gladi resik wisuda dan pengisian Tracer Study.

Dalam sambutannya, Direktur UT Jakarta, Drs. Moh. Muzammil, M.M., mengapresiasi kerja keras dan pengorbanan para calon wisudawan yang telah berhasil membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan pendidikan hingga tiba di momen kelulusan. Ia menekankan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial. Menurutnya, rasa khawatir, overthinking, maupun ragu terhadap masa depan adalah hal yang manusiawi, tetapi sistem pembelajaran jarak jauh di UT telah menempa lulusan menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan adaptif. Ia pun berpesan agar para alumni senantiasa menjaga nama baik almamater, terus belajar tanpa batas, serta memberikan kontribusi dan manfaat nyata bagi masyarakat di mana pun mereka berada.

Satu di antara penekanan utama dalam paparan narasumber adalah pentingnya membangun pola pikir (mindset) sejak dalam pikiran. Sherly Annavita Rahmi menyampaikan bahwa apa yang kita pikirkan merupakan proyektor dari diri kita di masa depan. Dalam mengarungi kehidupan, overthinking, insecure dan FOMO bukanlah hambatan mutlak, melainkan sarana pendewasaan. Seperti halnya cangkang yang harus pecah terlebih dahulu agar cahaya dapat masuk, menguasai 50 persen pemikiran berarti kita sudah memenangkan 50 persen pertandingan.

Sherly Annavita Rahmi menyampaikan materi pada Seminar Akademik UT Jakarta
Sherly Annavita Rahmi, Millenial Influencer & Content Creator, menyampaikan materi interaktif kepada calon wisudawan dalam Seminar Akademik UT Jakarta di UTCC, Pondok Cabe, Sabtu (26/09/2026).

Memasuki pembahasan mengenai penetapan tujuan hidup (what’s the goal), peserta diajak untuk selalu memberikan yang terbaik (do the best never enough), memelihara rasa ingin tahu (curiosity), dan menguatkan daya ingat. Sherly mengajak para calon wisudawan untuk merancang proyeksi manifesting 10 tahun ke depan. Mengutip pandangan pengusaha Bob Sadino, manusia kerap kali terjebak pada persepsi orang lain dan enggan beranjak dari zona nyaman karena takut kehilangan penerimaan lingkungan. Keinginan untuk diakui dan diapresiasi merupakan hal wajar, namun jika dibiarkan membesar tanpa kendali, hal tersebut justru menjadi beban yang membatasi potensi diri.

Lebih lanjut, narasumber menguraikan pentingnya mengenali kelebihan dan kekurangan diri agar tidak terjebak dalam insecure yang merugikan. Ketika berada di lingkungan yang tepat dan berani menunjukkan potensi, rasa ketidakpercayaan diri justru bisa diubah menjadi kontribusi yang nyata. Bagi hal-hal yang belum dikuasai, kunci utamanya adalah berkolaborasi. Perjalanan kuliah selama 3 hingga 4 tahun di UT Jakarta telah membentuk para peserta untuk mengenali diri sendiri, sehingga mereka lebih siap mengambil keputusan di tengah masa depan yang penuh ketidakpastian.

Menjawab tantangan generasi muda yang ingin berkarier sebagai pengusaha maupun pendidik di era digital, hadirnya Artificial Intelligence (AI) dipandang sebagai peluang besar. Penggunaan AI dapat memudahkan berbagai pekerjaan, selama manusia mampu beradaptasi dan tetap menjadi pemegang kendali narasi utama dengan pendampingan AI. Di akhir paparannya, Sherly menekankan bahwa keberhasilan membutuhkan proses panjang dan konsistensi tinggi artinya satu keberhasilan berasal dari 100 kali percobaan dan usaha.

“Without consistency, no excuses”

Pesan penutup Sherly Annavita Rahmi

Sebagai penutup, seluruh peserta diingatkan untuk senantiasa menjaga akal dan hati agar tetap berada di jalur yang benar (on the track). Respon yang kita berikan kepada lingkungan akan menentukan kualitas diri kita, bukan sekadar penilaian orang lain. Karena setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya, generasi mendatang harus dibangun dengan ketangguhan tanpa alasan. “Without consistency, no excuses” menjadi pesan penguat bagi 1.912 calon wisudawan UT Jakarta dalam melangkah menuju masa depan.